Showing posts with label anggrek. Show all posts
Showing posts with label anggrek. Show all posts

ANGGREK

A N G G R E K
( Citrullus vulgaris )



1. SEJARAH SINGKAT
Anggrek merupakan tanaman bunga hias berupa benalu yang bunganya indah. Anggrek sudah dikenal sejak 200 tahun lalu dan sejak 50 tahun terakhir mulai dibudidayakan secara luas di Indonesia.
2. JENIS TANAMAN
Jenis anggrek yang terdapat di Indonesia termasuk jenis yang indah antara lain: Vanda tricolor terdapat di Jawa Barat dan di Kaliurang, Vanda hookeriana, berwarna ungu berbintik-bintik berasal dari Sumatera, anggrek larat/Dendrobium phalaenopis, anggrek bulan/Phalaenopsis amabilis, anggrek Apple Blossom, anggrek Paphiopedilun praestans yang berasal dari Irian Jaya serta anggrek Paphiopedilun glaucophyllum yang berasal dari Jawa Tengah.

Tanaman anggrek dapat dibedakan berdasarkan sifat hidupnya, yaitu:
1.
Anggrek Ephytis adalah jenis anggrek yang menupang pada batang/pohon lain tetapi tidak merusak/merugikan yang ditumpangi. Alat yang dipakai untuk menempel adalah akarnya, sedangkan akar yang fungsinya untuk mencari makanan adalah akar udara.
2. Anggrek semi Ephytis adalah jenis anggrek yang menempel pada pohon/tanaman lain yang tidak merusak yang ditumpangi, hanya akar lekatnya juga berfungsi seperti akar udara yaitu untuk mencari makanan untuk berkembang.
3. Anggrek tanah/anggrek Terrestris adalah jenis anggrek yang hidup di atas tanah.

3. MANFAAT TANAMAN
Manfaat utama tanaman ini adalah sebagai tanaman hias karena bunga anggrek mempunyai keindahan, baunya yang khas. Selain itu anggrek bermanfaat sebagai campuran ramuan obat-obatan, bahan minyak wangi/minyak rambut.
4. SENTRA PENANAMAN
Sentra tanaman anggrek di Eropa adalah Inggris, sedangkan di Asia adalah Muangthai. Di Indonesia, anggrek banyak terdapat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra ataupun di Irian Jaya.
5. SYARAT PETUMBUHAN
5.1. Iklim
1.
Angin tidak dan curah hujan terlalu berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman anggrek.

2. Sinar matahari sangat dibutuhkan sekali bagi tanaman ini. Kebutuhan cahaya berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman anggrek.
3. Suhu minimum untuk pertumbuhan anggrek adalah 12,7 derajat C. Jika suhu udara malam berada di bawah 12,7 derajat C, maka daerah tersebut tidak dianjurkan untuk ditanam anggrek (di dataran tinggi Dieng).
4. Tanaman anggrek tidak cocok dalam suasana basah terus menerus, akan tetapi menyukai kelembaban udara di siang hari 65-70 %.

5.2. Media Tanam
Terdapat 3 jenis media untuk tanaman anggrek, yaitu:
1.
Media untuk anggrek Ephytis dan Semi Ephytis terdiri dari:
1. Serat Pakis yang telah digodok.
2. Kulit kayu yang dibuang getahnya.
3. Serabut kelapa yang telah direndam air selama 2 minggu.
4. Ijuk.
5. Potongan batang pohon enau.
6. Arang kayu .
7. Pecahan genting/batu bata.
8. Bahan-bahan dipotong menurut ukuran besar tanaman dan akarnya.
Untuk anggrek Semi Epirit yang akarnya menempel pada media untuk mencari makanan, perlu diberi makanan tambahan seperti kompos, pupuk kandang/daun-daunan.


2. Media untuk anggrek Terrestria
Jenis anggrek ini hidup di tanah maka perlu ditambah pupuk kompos, sekam, pupuk kandang, darah binatang, serat pakis dan lainnya.
3. Media untuk anggrek semi Terrestria
Bahan untuk media anggrek ini perlu pecahan genteng yang agak besar, ditambah pupuk kandang sekam/serutan kayu. Dipakai media pecahan genting, serabut kayu, serat pakis dan lainnya. Derajat keasaman air tanah yang dipakai adalah 5,2.

5.3. Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat yang cocok bagi budidaya tanaman ini dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
1.
Anggrek panas (ketinggian 0-650 m dpl)
Anggrek panas memerlukan suhu udara 26-30 derajat C pada siang hari, 21 derajat C pada malam hari, dengan daerah ketinggian 0-650 meter dpl. Contoh jenis anggrek ini adalah:
1. Dendrobium phalaenopsis
2. Onchidium Papillo
3. Phaphilopedillum Bellatum
2. Anggrek sedang (ketinggian 150-1500 m dpl) Anggrek sedang pada suhu udara siang hari 21 derajat C dan 15–21 derajat C, pada malam hari, dengan ketinggian 150-1500 m dpl.
3. Anggrek dingin (lebih dari 1500 m dpl) Anggrek dingin jarang tumbuh di Indonesia, tumbuh baik pada suhu udara 15-21 derajat C di siang hari dan 9–15 derajat C pada malam hari, dengan ketinggian = 1500 m dpl. Contoh: anggrek jenis Cymbidium.


6. PEDOMAN BUDIDAYA
6.1. Pembibitan
Persyaratan Bibit
Bibit anggrek yang baik, sehat dan unggul mempunyai beberapa ciri, yaitu: bentuk batang kuat, pertumbuhan pesat, daun subur, bunga lebat dan indah.


Penyebaran Biji
Bibit anggrek berasal dari biji yang disemaikan. Adapun penyebaran biji anggrek sebagai berikut:
a)
Peralatan yang digunakan untuk penyebaran biji harus bersih.
b) Mensterilkan biji
Sebelum biji disebar harus disterilkan dulu dengan 10 gram kaporit dilarutkan dalam 100 cc air kemudian saring kertas filter, dimasukkan ke dalam botol. Biji dimasukan dalam botol dan digojog 10 menit. (biji anggrek yang semula kuning kecoklatan berubah warna menjadi kehijauan). Kemudian air dibuang dan diganti dengan aquades, digojog berulang kali (2–3 kali).
c) Penyebaran biji anggrek
Botol-botol yang telah disterilkan dapat digunakan untuk menyebaran biji anggrek. Sebelum botol dibuka, leher botol dipanaskan di atas lampu spritus untuk menghilangkan kuman. Untuk memasukan biji anggrek ke dalam botol digunakan pipet yang dibersihkan dulu dengan cara pemanasan di atas lampu spritus sampai merah kemudian dicelup kedalam spritus. Botol yang telah terbuka kemudian diisi biji anggrek dan diratakan keseluruh permukaan alas makanan yang telah disediakan. Sebelum botol ditutup kita panaskan lagi di atas spritus kemudian ditutup kembali.


Teknik Penyemaian Benih
a)
Memeriksaan dengan mikroskop, baik atau tidaknya biji anggrek, yang kosong berwarna putih dan yang isi kuning coklat/warna lain.
b) Mempersiapkan botol yang bermulut lebar bersih dan tidak berwarna agar dapat meneruskan cahaya matahari yang dibutuhkan dan mudah dilihat.
c) Tutup botol dari kapas digulung-gulung sampai keras, ujung diikat tali untuk memudahkan dicopot kembali, atau kain sisa yang dipotong potong. Kerapatan tutup botol menjaga agar bakteri/jamur tidak masuk sehingga tidak terinfeksi atau terkontaminasi.
d) Mempersiapkan lemari kaca (ent-kas) yang bersih dari bakteri/jamur dengan kain yang sudah dicelup formalin udara dalam lemari disterilkan dengan kapas dipiring dituangi formalin supaya menguap mensterilkan kaca (ent-kas).
e) Pembuatan sterilsasi alas makanan dan untuk membuat alas makanan anggrek biasanya dipakai resep Khudson C (NORTHEN) 12 yaitu:
Ca(NO3)2H2O
KH2PO4
MgSO47H2O
(NH4)2SO4
Saccharose
FeSO4 4H2O
MnSO4
Agar-agar
Aquadest
: 1,00 gram
: 0,25 gram
: 0,25 gram
: 0,25 gram
: 20 gram
: 0,25 gram
: 0,0075 gram
: 15–17,5 gram
: 1000 cc

Pembuatan alas makanan diperlukan pH 5,2, dipergunakan pH meter/kertas pH tekstil/Indikator Paper. Sterilisasi dengan cara dipanaskan dalam Autoclaf yang sampai 110 derajat C selama setengah jam atau dengan dandang kemudian diletakan pada tempat bersih, dengan posisi miring, sehingga makanan setinggi 1/2–2/3 tinggi botol (dari alas sampai ke leher botol) dan didiamkan selama 5–7 jam untuk mengetahui sterilisasi yang sempurna.


Pemindahan Bibit
Setelah tanaman di dalam botol berumur 9–12 bulan terlihat besar, tumbuh akar. Dalam tingkat ini bibit sudah dapat dipindahkan kedalam pot penyemaian yang berdiameter 7 cm, 12 cm atau 16 cm yang berlubang. Siapkan pecahan genting, dan akar pakis warna coklat, di potong dengan panjang 5–30 mm sehingga serabutnya terlepas satu sama lainnya.
Sebelum dipakai terlebih dulu dicuci bersih dan biarkan airnya hilang. Akar pakis setelah dicuci, direndam dulu dalam alas makanan selama 24 jam yang berupa:
a) Urea atau ZA
: 0,50 mg
b) DS, TS atau ES : 0,25 mg
c) Kalium sulfat atau K2SO4 : 0,25 mg
d) Air : 1000 cc
Alaternatif lain sebagai alas makanan, dapat juga dipakai pupuk buatan campuran unsur N, P, K perbandingan 60:30:10 atau dapat juga digunakan pupuk kandang yang telah dicampur pakis dengan perbandingan pakis: pupuk kandang = 4:1.
Selain itu dapat digunakan kulit Pinus yang di potong kecil sebesar biji kacang tanah, yang telah direndam dalam alas makanan seperti akar pakis selama 24 jam. Untuk isian pot ini dapat juga digunakan arang kayu bakar/serabut kelapa yang dipotong-potong sebesar ibu jari.

Pot yang disiapkan diisi dengan pecahan genting 1/3 tinggi pot/layah, kemudian isi remukan pakis tersebut setinggi 1 cm di bawah tepi pot/layah (tidak perlu dipadatkan).

Pemindahan bibit ke dalam pot dilakukan dengan mengeluarkan tanaman di botol dengan memasukkan air bersih ke dalam botol. Dengan kawat bersih berujung seperti huruf U, tanaman dikeluarkan satu persatu (akar lebih dahulu). Setelah keluar tanaman dicuci kaporit 1 % kemudian dengan air bersih. Seedlings (semaian) ditanam dalam pot dengan rapat. Apabila di dalam botol sudah terjadi kontaminasi jamur sebaik lebih dulu direndam di dalam antibiotic (penicillin, streptomycin yang telah lewat expirydatenya) 10 menit baru ditanam.


Pemindahan dari Pot Penyemaian
Setelah tanaman pada pot penyemaian cukup tinggi, maka tanaman dipindahkan ke pot biasa yang berdiamater 4–6 cm, yang berisi potongan genting/batu bata merah, kemudian beri pakis/kulit pinus yang telah direndam dalam alas makanan sampai 1 cm di bawah tepi pot.


6.2. Pengolahan Media Tanam
Media tanam untuk tanaman anggrek tanah dibedakan:
a)
Tanaman dalam pot (dengan diameter 7-30 cm tergantung dari jenis tanaman).
Apabila diameter pot dipilih 25-30 cm maka perlu dipasang tiang di tengah-tengah pot, kemudian pot diisi pecahan genting. Anggrek di letakkan di tengah dan akarnya disebar merata dalam pot, kemudian batang anggrek diikat pada tiang. Pot diisi pupuk kandang yang telah dicampur sesuai dengan komposisi kira-kira
2/3 dari pot.
b) Media tanam dalam tanah dengan sistim bak-bak tanam.
Bak terbuat dari batu bata merah panjang 2 m lebar 40 cm dan tinggi bak 2 lapis batu bata merah. Pembuatan bak ini di atas tanah untuk menghindari dari kebecekan, di tanah kering digali sedalam 10-20 cm kemudian diberi bata ukuran 40 cm x 2 m dan jarak antara pembantas dengan yang lain 3 cm. Tiang penahan dibuat 4 buah yang ditancapkan ke dalam tanah dengan ketinggian masingmasing
1,5 m. Antara tiang satu dengan yang lain dihubungkan dengan kayu sehingga keempat tiang tersebut merupakan suatu rangkaian.

6.3. Teknik Penanaman
Penanaman tanaman anggrek, disesuaikan dengan sifat hidup tanaman anggrek, yaitu:
1)
Anggrek Ephytis adalah anggrek yang menupang pada batang/pohon lain tetapi tidak merusak/merugikan yang ditumpangi atau ditempelin. Alat yang dipakai untuk menempel adalah akarnya, sedangkan akar yang fungsinya untuk mencari makanan adalah akar udara.
2) Anggrek semi Ephytis adalah jenis anggrek yang menempel pada pohon/tanaman lain yang tidak merusak yang ditempel, hanya akar lekatnya juga berfungsi seperti akar udara yaitu untuk mencari makanan untuk berkembang.
3) Anggrek tanah/anggrek Terrestris.

6.4. Pemeliharaan Tanaman
Penjarangan dan Penyulaman
Penjarangan dan penyulaman dilakukan pada tempat yang disesuaikan dengan jenis anggrek, yang sifatnya epphytis atau anggrek tanah.


Penyiangan
Untuk tanaman anggrek pada penyiangan pada waktu pada kondisi di dalam botol kemudian dipisahkan ke dalam pot-pot yang sudah disediakan sesuai jenis anggrek.


Pemupukan
Unsur makro yaitu unsur yang diperlukan dalam jumlah besar yang meliputi: C, H, O, N, S, P, K, Ca, Mg. Untuk unsur mikro yaitu unsur yang dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit, antara lain: Cu, Zn, Mo, Mn, V, Sc, B, Si, dst. Unsur makro dan unsur mikro dapat diambil dari udara atau dari tanah, berupa gas atau air dan garam-garam yang terlarut di dalamnya.

Pemupukan pada tanaman anggrek dibagi dalam 3 tahapan, yaitu:
a)
Pemupukan untuk bibit (seedlings) dengan N, P, K.
Perbandingan N:P:K=6:3:1. Unsur N lebih banyak dibutuhkan untuk pembentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Unsur N diambil dari pupuk ZA/urea, untuk P dipakai pupuk ES; DS; TS, dan K dari Kalium Sulfat (K2SO4).
Pupuk-pupuk buatan yang mengandung N, P, K:
1. Urea : 0,6 gram untuk 1 liter air
2. ES : 0,3 gram untuk 1 liter air
3. ZK : 0,1 gram untuk 1 liter air
b) Pemupukan untuk ukuran sedang (mid-size) dengan N, P, K. Perbandingan N:P:K=3:3:3 yang sama banyak disini tidak memerlukan tambahan pupuk, maka dapat dususun sendiri pupuk yang mengandung N, P, K dengan cara misalnya :
1. Urea
: 0,3 gram untuk 1 liter air
2. Ds : 0,3 gram untuk 1 liter air
3. K2SO4 : 0,3 gram untuk 1 liter air

c) Pemupukan untuk ukuran berbunga (flowerings-size) Tanaman yang sudah berbunga dipupuk dengan perbandingan N:P:K= 1:6:1.

Teknik pemberian pupuk buatan adalah:
a)
Dalam bentuk padat/powder yang dilakukan dengan menaburkan secara hati-hati, jangan tersangkut pada daun/batangnya yang menyebabkan daun/batang tadi dapat terbakar.
b) Disiramkan, yang mana anggrek dapat menyerap air dan garam-garam yang terlarut di dalamnya. Cara ini banyak dilakukan dimana-mana.
c) Penyemprotan, cara ini sangat baik apabila terjadi pembusukan akar didalamnya, maka akarnya ditutup plastik.

Pupuk kandang yang sering digunakan adalah kotoran kuda, sapi, kerbau, kambing, ayam dan lain-lain. Kebaikan pemakaian pupuk kandang selain mengandung bermacam-macam unsur yang dibutuhkan oleh tanaman juga sangat membantu dalam penyimpanan air, apalagi pada musim kemarau. Keburukan dari pupuk kandang ini adalah di dalam kotoran banyak bateri yang mengandung jamur. Untuk itu dianjurkan disangan lebih dahulu untuk menghilangkan jamur/bakteri di dalamnya. Pemupukan tanaman lebih baik dilakukan pada waktu pagi-pagi atau pada sore hari sekitar pukul 5.00 sore.


Pengairan dan Penyiraman
Sumber air untuk penyiraman tanaman anggrek dapat berasal dari:
a)
Air Ledeng, baik untuk menyiram karena jernih dan steril, tetapi pHnya tinggi maka perlu diturunkan dengan menambah suatu asam misalnya HCl. PH yang baik sekitar 5,6-6.
b) Air sumur, baik untuk menyiram karena banyak mengandung mineral dari tanah yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Air sumur di daerah kapur harus diperhatikan pHnya.
c) Air hujan, yang ditampung didalam tong-tong/bak sangat baik untuk menyiraman.
d) Air kali/air selokan, tetapi kita tidak tahu pasti apakah air itu mengandung jamur, bakteri/lumut yang bisa mengganggu anggrek/tidak. Kalau dilihat dari sudut isi makanan mungkin cukup baik.
Hal perlu diperhatikan bagi petani anggrek adalah mengetahui sifat-sifat dari isian pot supaya bisa mengatur banyaknya air untuk menyiram. Adapun macam isian pot dan sifat diuraikan sebagai berkut:
a)
Pecahan genting/pecahan batu merah, yang mana mudah menguapkan air dan sifat anggrek yang tidak begitu senang dengan air sehingga tidak mudah untuk lumutan. Untuk pecahan genting lebih kecil daya serapnya lebih banyak dan untuk siraman lebih sedikit.
b) Potongan sabut kelapa, pemakaian serabut kelapa lebih baik untuk digunakan di daerah panas karena menyimpan air, tetapi kalau penggunaan di daerah dingin tidak menguntungkan karena mudah busuk.
c) Remukan akar pakis yang hitam, keras dan baru tidak mudah untuk menyerap air, setelah beberapa bulan banyak menyerap air. Akar pakis yang coklat dan lunak lebih mudah menyerap dan menahan air.
d) Potongan kulit pakis, dimana media ini sukar sekali untuk penyerapan air, mudah terjadi penguapan. Jika potongannya besar, penyerapan kecil dan jika potongan kecil penyerapan air lebih banyak.
Bagi tanaman yang sudah besar pedoman penyiramannya 3-7 hari sekali musim hujan dan 1-3 hari sekali pada musim hujan.


Waktu Penyemprotan Pestisida
Obat-obatan sebaiknya disemprotkan pada waktu pagi hari, lebih baik pada sore hari sekitar jam 5.00. Penyemprotan bagi tanaman anggrek sehat, dilakukan rutin kurang lebih 3 bulan sekali. Penyemprotan bagi tanaman anggrek terserang hama perlu dilakukan berulang-ulang 3 kali dengan jangka waktu tertentu (untuk kutu) daun seminggu sekali. Adapun jenis insektisida dan dosis yang digunakan untuk hama antara lain:
a)
Orthene 75 SP dosis 5-10 gram/10 liter air untuk ulat pemakan daun
b) Bayrusil 250 EC dosis 2 cc/liter air untuk ulat pemakan daun
c) Malathion dosis 3 gram/liter air untuk ulat, kumbang, kutu
d) Kelthane dosis 2 gram/liter air, untuk kutu
e) Metadeks dosis dibasahi air, dicampur dedak 6-8 cc/10 liter, untuk keong dan bekicot air
f) Falidol E.605 dosis dibasahi air, dicampur dedak 6-8 cc/10 liter, untuk keong dan bekicot air
Untuk hama bekicot ada 2 cara pengendaliannya yaitu:
a)
Menyebarkan obat sekitar pot anggrek dengan mencampur antara obat Metadeks ke dedak halus di tambah air sedikit.
b) Membuat larutan 1 cc Dieldrin 50% 25 EP dicampur dengan 1 liter air atau 6–8 cc Folediol E 605 kedalam air 10 liter. Kemudian pot tanaman anggrek direndam dalam larutan tersebut selama beberapa waktu dan diulang satu minggu sekali.




7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
1.
Tungau/kutu perisai
Gejala: menempel pada pelepah daun; berwarna kemerahan jumlahnya banyak; bekas serangan berupa bercak hitam dan merusak daun.
Pengendalian: digosok dengan kapas dan air sabun; apabila serangan sudah parah, harus disemprot oleh insektisida dengan dosis 2 cc/liter.


2. Semut
Gejala: merusak akar dan tunas muda yang disebabkan oleh cendawan.
Pengendalian: pot direndam dalam air dan ciptakan lingkungan bersih di sekitar rak/sebaiknya pot digantung.
3. Belelang
Gejala: pinggiran daun rusak dengan luka bergerigi tak beraturan. Untuk jenis belalang berukuran kecil, perlu pengamatan cermat.
Pengendalian: segera semprotkan insektisida yang bersifat racun kontak/yang sistematik; bila jumlahnya sedikit bisa langsung dimusnahkan/dibunuh.
4. Trips
Gejala: menempel pada buku-buku batang dan daun muda; menimbulkan bercak abu-abu dipermukaan daun dan merusak bunga hingga bentuk bunga tidak menarik.
Pengendalian: secara periodik dan teratur pot anggrek disemprot insektisida.
5. Kutu babi
Gejala: kerusakan yang ditimbulkan seperti akibat semut; tapi tidak menyerang tunas daun.
Pengendalian: perendaman dapat mengusir kutu babi dari pot anggrek.
6. Keong
Gejala: menyerang lembaran daun anggrek.
Pengendalian: dalam jumlah sedikit cukup diambil/dibunuh; bila jumlah banyak perlu memakai insektisida/dijebak dengan bubuk prusi.
7. Red Spinder
Gejala: bercak putih di bagian bawah daun; permukaan atas menjadi kuning dan lama kelamaan daun mati.
Pengendalian: bila sedikit cukup diambil dengan menggunakan isolatip lalu dibakar/menggosok daun dengan alkohol; apabila banyak maka perlu menggunakan insektisida dengan bahan aktif diazinon, dicofol.
8. Kumbang
Gejala: yang terserang akan berlubang-lubang khusus kumbang penggerek batang kerusakannya berupa lubang di tengah batang dan tidak nampak dari luar; Larvanya yang menetas dari telur merusak daun anggrek.
Pengendalian: menyemprotkan tanaman yang diserang dengan menggunakan insektisida sistemik secara rutin; bersihkan pot dari kepompong dan telur kumbang dengan jalan memindahkannya ke pot baru dan media tanam yang baru pula.
9. Ulat daun
Gejala: menyerang daun, kuncup bunga, tunas daun maupun bunga yang sedang mekar.
Pengendalian: kalau jumlahnya sedikit (2–5 ekor) dapat dibunuh dengan tangan; bila banyak dapat menggunakan insektisida sistemik; tanaman yang telah diserang sebaiknya dipisahkan dengan tanaman yang masih sehat.
10. Kepik
Gejala: menghisap cairan daun tanaman anggrek, sehingga menyebabkan bintik putih/kuning; tanaman yang diserang lama kelamaan akan gundul dan tidak berhijau daun lagi.
Pengendalian: semprotkan insektisida yang sama seperti untuk membasmi serangga lainnya, seperti ulat, kumbang dan trips.
11. Kutu tudung
Gejala: daun menjadi kuning, tidak sehat, lalu berwarna coklat dan mati.
Pengendalian: seperti halnya membasmi ulat kumbang dan trips.

7.2. Penyakit
1.
Penyakit buluk
Sering terdapat di dalam media tanam, kultur spora cendawan ini terbawa oleh biji anggrek karena tutup botol tidak steril.
Gejala: biji anggrek tidak mampu berkecambah dan persemaian dalam botol akan gagal; kecambah yang telah tumbuh kalau diserang cendawan ini akan mati/layu.
Pengendalian: pada awal serangan media agar dikeluarkan dari botol, lalu botol ditutup kembali, dilakukan dengan steriil; kalau kecambah anggrek terlanjur besar, segera dikeluarkan dari botol dan dicuci dengan fungisida lalu kecambah ditanam dalam pot.
2. Penyakit rebah kecambah
Merupakan penyakit anggrek selama masih dalam persemaian. Penyebaran penyakit ini lewat air.
Gejala: semula berupa bercak kecil bening pada permukaan daun, lalu melebar, menulari ke atas sampai pada titik tumbuh pada tunas serta ke bawah hingga ujung akar, kecambah anggrek akan membusuk dan mati.
Pengendalian: bibit yang sakit sebaiknya segera dibuang, dibakar sampai musnah. Pot dan kumpulan kecambah dikeringkan dan disemprot dengan fungisida.
3. Penyakit bercak coklat
Kecambah jenis Phalae-nopsis sangat peka terhadap bakteri ini, terutama pada cuaca sangat lembab. Infeksi melalui daun basah atau di bekas luka pada daun. Sentuhan daun yang sakit pada daun sehat dapat menularkan penyakit ini.
Gejala: bercak kecil bening pada pucuk daun. Dalam beberapa hari dapat meluas ke seluruh kompot, daun kecambah anggrek menjadi rusak dan mati. Penyakit ini sangat ganas, karena mematikan dan cepat menular.
Pengendalian: sangat sulit penyakit ini pada awal serangan. Pada serangan yang parah, tidak ada jalan lain kecuali memusnahkan seluruh kecambah anggrek.
4. Penyakit bercak hitam
Pada tanaman anggrek yang, penyakit ini cepat menular malalui akar dan alat yang tidak sterill
Gejala: timbul warna coklat kehitaman pada bagian tanaman yang terserang. Mulai dari daun ke atas sampai ke tunas dan ke bawah hingga ujung akar. Tanaman terlambat tumbuh, kerdil dan mengakibatkan kematian.
Pengendalian: bagian yang terserang dipotong dan dibuang atau disemprotkan fungisida; alat-alat potong disiram alkohol/dibakar sebelum digunakan.
5. Penyakit busuk akar
Penyebab: cendawan Rhizoctonia Solani.
Gejala: akar leher membusuk mencapai rhizoma dan umbi batang, daun dan umbi batang menguning, berkeriput, tipis dan bengkok, tanaman kerdil dan tidak sehat.
Pengendalian: semua bagian tanaman yang sakit dipotong dan dibuang; bekasnya disemprot dengan fungisida (Benlate).
6. Penyakit layu
Penyebab: cendawan Fusarium Oxyporium.
Gejala: mirip serangan penyakit busuk akar, namun pada rhizoma terdapat garis-garis, atau lingkaran berwarna ungu. Pada serangan berat, seluruh rizhoma menjadi ungu, diikuti pembusukan pada umbi batang, tanaman sangat tidak sehat.
Pengendalian: bagian yang terserang dibuang lalu bekasnya disemprotkan Benlate. Tanaman segera dipindahkan ke media tanam baru, yang masih segar dan bersih. Usahakan terdapat aliran udara yang lancar di sekitar tanaman.
7. Penyakit busuk
Penyebab: cendawan Sclerotium Rolfsi.
Gejala: terdapat bintil-bintil kecil berwarna coklat pada bagian tanaman yang terkena penyakit.
Pengendalian: bagian tanaman yang sakit dipotong dan dibuang. Media tanaman dan seluruh pot didesinfektan dengan larutan formalin 4 % ataupun fungisida/antibiotik Natrippene
0,5 % selama 1 jam.
8. Penyakit bercak coklat
Gejala: bercak coklat pada permukaan daun, lalu menyebar keseluruh bagian tanaman.
Pengendalian: membuang semua bagian yang sakit, lalu semprotkan fungisida/ antibiotika Streptomycin atau Physan 20.
9. Penyakit busuk lunak
Penyebab: bakteri Erwinia Cartovora.
Gejala: daun dan akar membusuk serta berbau. Penyakit ini cepat sekali meluas namun khusus pada rhizoma dan umbi batang, penyebarannya agak lambat.
Pengendalian: peralatan kebun harus steril, bagian yang sakit dipotong dan dibuang. Semprotkan Physan 20, pot tanaman disemprot dengan formalin 4 %.
10. Penyakit bercak bercincin
Penyebab: virus TMVO (Tobacco Mozaic Virus Odontoglos-sum).
Gejala: timbul lingkaran atau garis-garis kekuningan pada permukaan daun.
Pengendalian: hanya dengan pencegahan yakni membuang bagian tanaman yang sakit serta menstrerilkan semua alat potong.
11. Penyakit Cymbidium
Penyebab: virus Mozaic Cymbidium.
Gejala: semula berupa bercak kekuningan lalu muncul jaringan mati berbintik, bergaris atau lingkaran. Khusus pada Cattleya, bercak tadi berwarna coklat atau hitam cekung. Kadang ada gejala kematian jaringan di tengah daun yang dilingkari jaringan normal. Daun tua banyak sekali menunjukkan adanya bintik jaringan yang mati.
Pengendalian: hanya bersifat pencegahan yaitu membuang bagian tanaman yang sakit, serta mensterilkan segala alat yang dipakai.
12. Penyakit busuk hitam
Penyebab: cendawan Phytopytora Omnivora.
Gejala: muncul warna kehitaman pada pangkal daun, lalu melunak dan busuk, akhirnya daun mati. Pengendalian: semprotkan fungisida seperti Baycor Dithane M-45, Benlate, Ferban, Physan, Truban atau Banrot. Untuk yang berbentuk tepung gunakan dosis 2 gram/2 liter air.


8. P A N E N
8.1. Ciri dan Umur Tanaman Berbunga
Umur tanaman anggrek berbunga, tergantung jenisnya. Umumnya tanaman angrek dewasa berbunga setelah 1-2 bulan ditanam. Tangkai bunga yang dihasilkan kira-kira 2 tangkai dengan jumlah kuntum sebanyak 20-25 kuntum pertangkai.
8.2. Cara Pemetikan Bunga
Untuk panen bunga anggrek perlu diperhatikan, pemotongan dilakukan pada jarak 2 cm dari pangkal tangkai bunga dengan menggunakan alat potong yang bersih.
8.3. Perkiraan Produksi
Bibit anggrek yang sudah dewasa dan sesudah 2 bulan tangkai bunga akan menghasilkan 2 tangkai dengan jumlah kuntum 20-25 kuntum/tangkai.

9. PASCA PANEN
9.1. Pengumpulan
Pengumpulan bunga anggrek dilakukan berdasarkan permintaan pasar. Jenis anggrek Dendrobium dapat dipanen dalam bentuk:
a) Tanaman muda untuk bibit
b) Tanaman dewasa untuk tanaman hias
c) Bunga potong
Tanaman muda untuk bibit biasa dijual dalam bentuk pot kecil, sedangkan tanaman dewasa biasanya tanaman sudah berbunga. Untuk bunga potong dipilih tangkai yang kuntumnya paling banyak sudah mekar (kuncup tersisa 1–3 kuntum).
9.2. Penyortiran dan Penggolongan
Bunga dipilih yang bagus, tidak kena penyakit ataupun luka. Selanjutnya bunga dikelompokan sesuai dengan kebutuhan berdasarkan tingkat kesegaran atau ukuran bunga dengan maksud untuk mempertahanankan nilai jual sehingga bunga yang bagus tidak turun harganya.
9.3. Penyimpanan
Penyimpanan bertujuan untuk memperlambat proses kelayuan bunga, sehingga dilakukan pada saat:
a)
Bunga baru saja dipetik sambil menunggu pemanen selesai.
b) Bunga yang telah dipanen tidak segera dijual atau diangkut.
c) Bunga mengalami perjalanan sebelum sampai ke konsumen.
Agar bunga tetap segar perlu adanya pengawetan dengan tujuan agar penurunan mutu lebih lambat bunga tetap segar. Usaha pengawetan bunga dillakukan dengan cara penempatan bunga dalam larutan pengawet atau air hangat (38–43 derajat C) selama 2 jam. Larutan bahan pengawet tersebut antara lain:
a)
Larutan seven up dengan kadar 30 %.
b) 2 % larutan gula ditambah 2 gram physan (termasuk fungisida) dan 1 gram asam sitrat per 10 liter.
c) 2 % larutan gula ditambah 2 gram 8-hydroquinoline sulfat dan 1 gram asam sitrat per 10 liter.
d) Larutan gula kadar 4–5 % ditambah 0,2 gram quinolin per liter.
Pengawetan untuk bunga yang dikirim jauh adalah dengan merendam tangkainya dalam larutan gula dengan kadar 6–8 % selama 24 jam atau dimasukan dalam kantong plastik dan kadar karbon dioksida (CO2) dinaikkan dengan menggunakan es kering atau disimpan pada ruangan dengan kondisi udara antara 0–5 derajat C.
9.4. Pengemasan dan Pengangkutan
Setelah dilakukan pembersihan, pemilihan dan pengawetan bunga dendrobium
potong dipak melalui cara:
1)
Setiap sepuluh tangkai dibungkus bagian pucuk dengan menggunakan kantong plastik tipis, ukuran disesuaikan tergantung panjang tangkai.
2) Setiap pangkal tangkai dibalut kapas basah, kemudian dibungkus kantong plastik ukuran panjang 8 cm dan lebar 4 cm.
3) Pembungkus bunga dan pembungkus pangkal tangkai digabungkan selanjutnya diikat dengan karet gelang.
4) Bungkusan-bungkusan bunga disusun bersilang di dalam kotak karton yang berlubang sampai cukup padat.
5) Kotak karton ditutup rapat dengan menggunakan carton tape.


10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
10.1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya bunga anggrek Dendrobium dengan luas lahan 1,25 m x 12 m; Untuk satu pohon/pot dapat menghasilkan bunga sebanyak 2–3 tangkai bunga dimana anggrek dalam pot mulai berbunga pada umur 3-5 bulan dan menjadi bunga potong pada umur 6–7 bulan dengan masa panen optimal 4 kali. Pada panen ke 2 s.d. ke 4 di atas umur 8 bulan; dalam satu tangkai bunga terdapat 10-15 kuntum bunga. Analisis dilakukan pada tahun 1999 di daerah Bogor. Harga 1 kuntum bunga mencapai harga Rp. 750,- sampai Rp. 1000,-.

1) Biaya produksi
1) Bibit
- Bibit: 8 botol @ Rp. 40.000,-
- Akar pakis: 5 ikat (42 lempeng /ikat)
Rp. 320.000,-
Rp. 75.000,-
2) Perlengkapan
- Arang: 80 kg @ Rp. 1.250,-
- Pot ukuran 15 cm: 400 bh @ Rp. 750,-
- Gandasil: 2 pak @ Rp. 7.500,-
- Kerangka: 1 unit bambu
Rp. 100.000,-
Rp. 4.500.000,-
Rp. 15.000,-
Rp. 150.000,-
3) Pupuk
- Furadan
- Azodrin: 1 botol
- Pupuk Urea: 5 kg @ Rp. 2.000,-
- NPK: 2,5 kg @ Rp. 2.000,-
Rp. 20.000,-
Rp. 12.500,-
Rp. 10.000,-
Rp. 5.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 5.207.000,-

2) Pendapatan: 3 tangkai x 10 kuntum x 400 pot x Rp.750,-
Rp. 9.000.000,-
3) Keuntungan Rp. 3.793.000,-
4) Parameter kelayakan usaha
1. Rasio output/input
= 1,73


10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Dalam usaha anggrek ini sangat visibel dan modal akan kembali dalam waktu kurang lebih 8 bulan sejak penaman dan apabila penjualan dimulai dari sejak dalam botol, maka akan dapat mengurangi biaya operasional.

Selain dari segi biaya modal, kebutuhan bunga potong dalam negeri per tahun untuk berbagai jenis anggrek diperkirakan sekitar 5 juta tangkai. Jumlah tersebut diluar adanya permintaan akan kebutuhan komoditi ekspor.

11. STANDAR PRODUKSI
11.1. Ruang Lingkup
Standar meliputi klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan dan pengemasan.
11.2. Diskripsi
Standar mutu bunga angrek potong ini di Indonesia tercantum dalam SNI 01–3171–1992.
11.3. Klasifikasi dan Standar Mutu
Bunga angrek potongan antara lain terdiri dari 3 jenis “Arathera James Storie” yang digolongkan dalam empat jenis mutu, “Arachin Maggie Oie” dan “Oncidium Golden Shower” yang masing-masing digolongkan dalam tiga jenis mutu.

a) Aranthera James Storie
1.
Panjang tangkai: mutu I=75 cm; mutu II=67,5 cm; mutu III=60 cm; cara uji dengan SP-SMP-287-1980.
2. Minimum jumlah bunga: mutu I=7; mutu II=6; mutu III=6; cara uji dengan organoleptik.
3. Minimum jumlah kuncup: mutu I=2; mutu II=2; mutu III=2; cara uji dengan organoleptik.
4. Minimum jumlah cabang: mutu I=3; mutu II=2; mutu III=1 ; cara uji dengan organoleptik.
5. Susunan bunga dalam tangkai: mutu I=lengkap; mutu II=lengkap; mutu III=lengkap; cara uji dengan organoleptik.
6. Bunga rusak karena serangga/jamur/mekanis: mutu I=tidak ada; mutu II=tidak ada; mutu III=tidak ada; cara uji organoleptik.

b) Arachnis Maggie Oei
1.
Panjang tangkai: mutu I=60 cm; mutu II=42,5 cm; mutu III=32,5 cm; cara uji dengan SP-SMP-287-1980.
2. Minimum jumlah bunga: mutu I=8; mutu II=8; mutu III=8; cara uji dengan organoleptik.
3. Minimum. jumlah kuncup: mutu I=2; mutu II=2; mutu III=2; cara uji dengan organoleptik.
4. Susunan bunga dalam tangkai: mutu I=lengkap; mutu II=lengkap; mutu III=lengkap; cara uji dengan organoleptik.
5. Bunga rusak karena serangga/jamur/mekanis: mutu I=tidak ada; mutu II=tidak ada; mutu III=tidak ada; cara uji organoleptik.

c) Onchidium Goldian Varientas Golden Shower
1.
Panjang tangkai: mutu I=67,5 cm; mutu II=60 cm; mutu III=35 cm; cara uji dengan SP-SMP-287-1980.
2. Minimum jumlah bunga: mutu I=7; mutu II=7; mutu III=7; cara uji dengan SPSMP- 288-1980.
3. Minimum jumlah kuncup: mutu I=5; mutu II=5; mutu III=5; cara uji dengan SPSMP- 288-1980.
4. Minimum jumlah cabang: mutu I=9; mutu II=7; mutu III=27; cara uji dengan organoleptik.

11.4. Pengambilan Contoh
Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan terkecil dalam lot dan contoh dengan rincian sebagai berikut:
a)
Contoh yang diambil 1, untuk jumlah kemasan terkecil dalam lot = 1 – 3.
b) Contoh yang diambil 3, untuk jumlah kemasan terkecil dalam lot = 4 – 25.
c) Contoh yang diambil 6, untuk jumlah kemasan terkecil dalam lot = 26 – 50.
d) Contoh yang diambil 8, untuk jumlah kemasan terkecil dalam lot = 51 – 100.
e) Contoh yang diambil 10, untuk jumlah kemasan terkecil dalam lot = 101 – 150.
f) Contoh yang diambil 12, untuk jumlah kemasan terkecil dalam lot = 151 – 200.
g) Contoh yang diambil 15, untuk jumlah kemasan terkecil dalam lot = 201 – lebih.

Sedangkan untuk petugas pengambil contoh adalah orang yang telah berpengalaman/dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dalam suatu badan hukum.
11.5 Pengemasan
1)
Cara pengemasan
Pangkal tangkai bunga angrek potongan dimasukan ke dalam tube berisi cairan pengawet/dibungkus dengan kapas kemudian dimasukan ke dalam kantong plastik berisi cairan pengawet lalu dikemas dalam kotak karton/kemasan lain yang sesuai.
2) Pemberian merek
Pada bagian luar kemasan diberi tulisan:
1. Nama barang/varietas anggrek.
2. Jenis mutu.
3. Nama atau kode produsen/eksportir.
4. Jumlah isi.
5. Negara/tempat tujuan.
6. Produksi Indonesia.


12. DAFTAR PUSTAKA
1. Osman, Fiyanti, Indah Prasasti (1989) Anggrek Dendrobium, Jakarta Penebar Swadaya IKAPI 219 hal.
2. Tim Red. Trubus (1997) Jakarta. Anggrek Potong Penebar Swadaya 34 hal.
3. Agribisnis Tanaman Hias, F.Rahardi, Sri Wahyuni, Eko M. Nurcahyo, Penerbar Swadaya 1993
4. Budidaya Tanaman Anggrek – Departemen Pertanian 1987, 63 hal.
5. Merawat Anggrek , Sutarni M. Soeryowinoto, Penerbit Yayasan Kanisius, 87 hal.


Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS
LINK

Keluarga Orchidaceae

Keluarga Orchidaceae
  • Herbal atau jarang rambat, sangat mycotrophic, epiphytic, terestrial, lithophytic, atau jarang air atau bawah tanah, biasanya hijau dan fotosintetik, beberapa tanpa klorofil dan saprophytic.
  • Akar bawah tanah atau udara, tuberoid atau stolonoid, biasanya dengan spons, velamen berlapis-lapis. Batang tegak atau belum diselesaikan atau dimodifikasi menjadi merayap rhizomes, sederhana atau sympodially atau monopodially bercabang, halus untuk gemuk, atau menebal sebagai corms atau pseudobulbs, atau sangat berkurang, kadang-kadang proliferous (terutama beragam dalam sympodial anggrek).
  • Daun soliter, beberapa, atau diperkecil ke skala, basal atau cauline, alternatif, distichous, atau kadang-kadang berlawanan atau whorled, baik membelit atau menggandakan, sederhana, sessile atau petiolate; stipules absen; blade mengartikulasikan atau tidak, plicate atau conduplicate, cylindric, segitiga , atau lateral rata, margin keseluruhan.
  • Inflorescences terminal atau lateral, racemes, paku-paku, malai, atau jarang cymose, tegak atau berbagai diselesaikan, 1 banyak-bunga, kendur atau padat, berbunga berturut-turut atau secara simultan. Bunga biseksual [jarang berkelamin tunggal], epigynous, resupinate atau tidak, pedicellate atau sessile, 3-merous, biasanya bilateral simetris [jarang hampir radial simetris], dengan amputasi lapisan antara pedicel dan gagang bunga, jarang antara ovarium dan ovarium dan perianth atau pedicel; perianth dari 6 tepals dalam 2 whorls, semua daun petaloid atau kadang-kadang lebih hijau dan lebih foliaceous dalam tekstur; daun sama atau tidak, daun lateral sering bawaan (membentuk synsepal), atau semua daun 3 berbagai bawaan dan / atau adnate atau berbeda dan / atau bebas; kelopak 3, rata-rata kelopak diubah seperti bibir, biasanya lebih besar atau perbedaan dalam bentuk dan warna, umumnya kelopak lateral tetapi tidak selalu sama dengan daun; nectaries berbagai macam; extrafloral nectaries kadang-kadang hadir di pedicels, bracts, atau daun sarung; benang sari biasanya 1 2 (3, jika 3 3d diubah menjadi steril staminode), semua sisi yang berlawanan di bibir, sepenuhnya atau sebagian adnate untuk gaya, membentuk kolom; serbuk sari di monads atau tetrads, biasanya dalam 2 8 pollinia, kadang-kadang dibagi ke dalam paket-paket kecil, jarang rinci , kadang-kadang pollinia dengan caudicles dan / atau stipes; gynoecium 3-carpellate, bawaan, membentuk senyawa, inferior, 1 - atau 3-locular ovarium; adnate berbagai gaya untuk filamen; putik biasanya 3-lobed, untuk cembung cekung, bagian dari stigma median lobus dimodifikasi menjadi rostellum, sering memisahkan bagian subur antera dari stigma, umumnya mencegah atau dalam beberapa kasus penyerbukan memfasilitasi diri; ovula banyak, anatropous, menit.
  • Buah kapsul, pembukaan (dehiscing) oleh celah membujur, jarang berdaging dan indehiscent berry. Bibit banyak (jutaan dalam beberapa jenis), menit; endosperma absen. Genera ca. 800, spesies 22.000 35.000 (701 genera, 208 spesies dalam flora, 1 genus, 6 spesies memperkenalkan): di seluruh dunia kecuali Antartika, paling beragam di hutan tropis. Menghitung keseluruhan untuk anggrek genera flora termasuk Spathoglottis plicata Blume, yang baru-baru ini melaporkan dari Palm Beach County, Florida.

Tanaman, yang dikenal secara lokal sejak 1982, yang tampaknya luas dinaturalisasikan shellpits tua. Jumlah spesies flora baru termasuk salah satu spesies dikenali dalam morfologi Habenaria yang dijelaskan, tetapi tidak sepenuhnya diperlakukan di sini.

Orchidaceae adalah oleh jauh terbesar dan paling beragam monokotil keluarga dan peringkat di antara keluarga terbesar tanaman berbunga. Yang akurat tentang jumlah genera dan spesies telah menghindari anggrek ilmuwan, dan spesies penting diterbitkan dalam 20 tahun terakhir berkisar antara 15.000 hingga 35.000. Spesies baru terus-menerus dijelaskan. Selain itu, sejumlah alami dan buatan hibrida ada.

Meskipun anggrek yang penting dalam hortikultura, sebagian besar tanaman yang diperdagangkan di pasar nasional dan internasional termasuk sejumlah kecil spesies dan hibrida mereka hanya dalam beberapa genera; mayoritas anggrek tidak umum dibudidayakan. Beberapa anggrek secara ekonomi penting di luar perdagangan hortikultura: buah dari beberapa jenis Vanili merupakan sumber rempah-rempah vanili, dan akar kering beberapa spesies Dactylorhiza, Eulophia, dan Orchis dijadikan salep, tepung dikonsumsi di Afrika utara , Timur Tengah (khususnya Turki), dan Asia. Beberapa spesies lokal digunakan untuk tujuan pengobatan; si lendir dari pseudobulbs dari beberapa spesies kadang-kadang digunakan sebagai lem, dan di Timur Jauh yang berasal dari beberapa spesies Dendrobium dibagi menjadi strip digunakan untuk menenun kerajinan. Beberapa anggrek telah ditemukan menyebabkan dermatitis kontak (misalnya, Cypripedium reginae). Anggrek berkisar vegetatif dari tanaman kecil sekali beberapa milimeter panjang (Liparis Thouars dan Platystele Schlechter) ke cluster raksasa dengan berat beberapa ratus kilogram (Grammatophyllum Blume) untuk beberapa sebanyak 13,4 meter (DE Sobralia altissima Bennett & Christenson, yang baru saja dijelaskan spesies dari Peru).

Demikian juga, ukuran bunga bervariasi dari kurang dari 1 mm dan nyaris tak terlihat dengan mata telanjang (Platystele Garay), untuk 15 20 cm diameter (beberapa Paphiopedilum Pfitzer, Phragmipedium Rolfe, dan Lindley Cattleya spp.), Dan akhirnya menjadi 76 cm [Phragmipedium caudatum (Lindley) Rolfe]. Berat dapat bervariasi dari sepersekian gram (banyak Pleurothallus R. Brown spp.) Untuk hampir 100 gram (Coryanthes Hooker spp.). Wewangian mereka bervariasi dari yang menyenangkan (Cattleya Lindley) untuk menjijikkan dan tak tertahankan (dalam beberapa spesies Liparis Thouars). Menjajah habitat tanaman mulai dari beberapa tempat terkering dan terpanas di bumi untuk terbasah dan keren, benar-benar terjadi dari daerah kutub ke khatulistiwa.

Dalam monokotil, yang paling penting fitur diagnostik adalah pengurangan Orchidaceae adaxial benang sari, fusi dari sisa benang sari ke gynoecium membentuk kolom, agregasi serbuk sari ke pollinia kompak (sekarang di tempat lain hanya dalam dicots, di Asclepiadaceae), diferensiasi Median kelopak ke bibir, yang kadang-kadang organ kompleks, dan sangat kecil ukuran biji, yang tidak memiliki endosperma. Karakter pembeda antara lain: serbuk sari di pollinia biasanya tidak tersedia sebagai sumber nutrisi (Cleistes Richard ex Lindley menjadi pengecualian), dan yang sering interaksi dengan penyerbuk kompleks berujung pada fenomena pseudocopulation di beberapa genera (misalnya, Ophrys Linnaeus , Caladenia R. Brown sekte. Calonema, Drakaea Lindley). Dalam proses terakhir, bunga meniru penampilan, aroma, dan sering kali gerakan perempuan tawon, menarik jantan dari spesies yang cocok yang mencoba bersanggama dengan bunga. Ini biasanya hanya berhasil menjadi terpasang pada pollinium, yang kemudian akan ditransfer jika laki-laki mencoba untuk bersanggama dengan bunga lain. Akar anggrek tersebut dapat dilindungi dengan velamen, spons yang berasal dari lapisan epidermis; berdaging thickenings dari akar tuberoids (umbi dibatasi untuk batang). Mungkin batang bengkak atau menebal, corms bawah tanah atau udara pseudobulbs. Bunga sering resupinate: bibir (diubah median kelopak) yang paling bawah, biasanya sebagai akibat dari pedicel sedang memutar atau membungkuk dalam perkembangannya oleh 180 °. Pedicellate indung telur, biasanya digunakan dalam referensi untuk panjang, mengacu pada gabungan pedicel dan ovarium. Bunga tidak selalu ditanggung pada pedicels; ketika mereka, kadang-kadang sulit untuk membedakan antara yang ramping dan pedicel ovarium. Akibatnya, karena mereka ramping indung telur, bunga dari paku yg berbentuk gugusan tampak pedicellate meskipun mereka sessile, sementara spicate segugus telah pedicels begitu singkat bahwa mereka tampaknya tidak ada. Bunga anggrek sering memiliki median yang dimodifikasi sepal, sepal dorsal. Daun penggabungan tips mereka membentuk synsepal. Bagian tengah atas (adaxial) wajah dari bibir adalah disc: ini mungkin merupakan kalus menebal dan mungkin beruang rambut, papila, atau ornamen lainnya. Di anggrek gaya, stigma, filamen, dan satu atau lebih kepala putik bersatu untuk membentuk sebuah kolom; pelengkap proyeksi lateral dari stigma adalah sayap kolom; bibir mungkin harus terpasang ke tonjolan di dasar kolom untuk membentuk kaki kolom ; lateral daun yang juga melekat pada kaki membentuk mentum (dagu). Dalam kebanyakan anggrek beruang kolom tunggal pada puncaknya antera; yang clinandrium adalah rongga yang di dalamnya antera ditanggung atau tertanam. Serbuk sari ditanggung dalam diskrit massa (pollinia). Genera dengan bertepung (sectile) pollinia mungkin pollinia dalam antera lonjong menjadi ekor tepung sari (tangkai), yang melekat ke viscidium lengket. Mereka yang memiliki pollinia lilin pollinia terikat pada satu atau dua stipes (dari putik asal dan terbentuk di luar antera), yang pada gilirannya terpasang pada viscidium. Berbagai sekumpulan pollinia, caudicles, stipes, dan viscidium membentuk pollinarium, unit penyerbukan dibawa oleh penyerbuk. Stigma median lobus mungkin memiliki ekstensi atau li ramping

Anggrek hutan tropis

Orchid Image : A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z


Anggrek
http://125.162.119.102/dwnfilemanager.asp?id=17
Hutan tropis Indonesia memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi. Tidak kurang dari 63% luas daratan Indonesia merupakan hamparan hutan tropis seluas 120,35 juta hektar yang terdiri dari hutan konsdervasi, hutan lindung, hutan produksi terbatas, hutan produksi dan hutan produksi yang dapat dikonversi.Hutan tropis merupakan sumber plasma nutfah yang belum banyak dimanfaatkan, Indonesia memiliki 10% tumbuhan berbunga di dunia. Salah satu potensi hutan tropis yang belum tergali dan belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat adalah potensi tanaman hias.Potensi tanaman hias yang tumbuh di hutan alam atau kawasan konservasi, selain sumber plasma nutfah dan komponen ekosistem hutan, juga merupakan obyek wisata alam, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan khususnya mengenai jenis flora yang berpotensi sebagai tanaman hias. Beberapa jenis tanaman hias yang sudah dimanfaatkan dan dibudidayakan oleh masyarakat yang bibitnya berasal dari hutan antara lain jenis anggrek dan kantong semar.ANGGREK, merupakan jenis tumbuhan liar yang memiliki bunga yang sangat unik dengan aroma khas, sehingga banyak diminati untuk dipelihara dengan tujuan kesenangan maupun untuk dibudidayakan / diperdagangkan.Semua anggrek tergolong dalam famili Orchidaceae, yaitu bangsa Anggrek. Di Dunia diperkirakan terdapat ± 800 genus, yang termasuk kategori anggrek alam diperkirakan ± 25.000 jenis, sedangkan ± 10.000 jenis merupakan anggrek hibrida (hasil persilangan).Indonesia memiliki ± 5.000 jenis anggrek alam, yaitu seperlima dari jumlah anggrek alam di dunia. Penyebarannya mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.Berdasarkan asal-usulnya, anggrek dapat dibedakan menjadi dua, yaitu anggrek alam (spesies) dan anggrek hibrida (kultivar). Anggrek alam adalah anggrek yang berasal dari habitat aslinya di alam (hutan). Sedangkan anggrek hibridfa adalah anggrek yang merupakan hasil dari perkawinan silang antar species.Perkawinan silang dapat dilakukan pada anggrek alam dengan anggrek alam, anggrek alam dengan anggrek hibrida, atau antara sesama anggrek hibrida. Anggrek alam lebih banyak diburu pada kolektor karena memiliki kemurnian jenis yang sangat tinggi. Kemurnian jenis sangat diperlukan dalam perkawinan silang untuk mendapatkan jenis – jenis baru dengan ciri – ciri morfologi sesuai harapan yang diinginkan. Kawasan hutan di Provinsi Jambi merupakan tempat tumbuhnya anggrek alam, salah satunya di Kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD), berikut data jenis dan sebaran anggrek di TNBD tersebut:
Anggrek memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh semua jenis tumbuhan. Akarnya ada empat macam, yaitu akar lekat, akar pikat, akar udara dan akar tanah. Berdasarkan batangnya anggrek dapat dibedakan menjadi dua, yaitu batang yang pertumbuhannya monopodial dan simpodial. Batang monopodial hanya memiliki satu titik tumbuh, sedangkan batang simpodial memiliki lebih dari satu titik tumbuh dan biasanya berumpun.Berdasarkan cara hidupnya anggrek dapat dibedkan menjadi enam, yaitu anggrek epifit, semi epifit, terestris / terrestrial, semi terestris / semi – terestrial, saprofit dan lithofit.Semua anggrek di Indonesia masuk dalam daftar CITES Appendix I dan II. Berdasarkan Peraturan Pemeirntah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis tumbuhan dan satwa tercatat 29 jenis anggrek yang dilindungi, kemudian direvisi menjadi 27 jenis.

29 Species anggrek Indonesia dilindungi(Protected Indonesian Orchids)

Orchid Image : A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

HOME

29 Indonesian orchid species protected by goverment rule




Ascocentrum miniatum atau anggrek kebutan



Corybas fornicatus, anggrek koribas


Coelogyne pandurata, anggrek hitam



Cymbidium hartinahianum, anggrek hartinah


Dendrobium d'albertisii, anggrek albert


Dendrobium lasienthera, anggrek stuberi


Dendrobium macrophyllum, anggrek jamrud

Dendrobium catinecloesum, anggrek karawai



Dendrobium ostrinoglossum , anggrek karawai

dendrobium phalaenopsis, anggrek larat

Grammatophyllum speciosum, anggrek tebu


macodes petola, anggrek ki aksara

Paphiopedillum chamberlainianum, anggrek kasut kumis

Paphiopedilum glaucophyllum, anggrek kasut berbulu


Paraphalaenopsis laycockii, anggrek bulan Kalimantan Tengah


Paraphalaenopsis devenei, anggrek bulan bintang


Paraphalaenopsis serpentilingua, anggrek bulan Kal. Barat


Phalaenopsis aensis, anggrek bulan Ambon

Phalaenopsis gigantea, anggrek bulan raksasa

Phalaenopsis sumatrana, anggrek bulan Sumatra


Phalaenopsis violacose(bellina), anggrek kelip


Renanthera matutina, anggrek jingga



Spathoglottis zurea, anggrek sendok


Vanda celebica, vanda mungil Minahasa


Vanda pumila, Vanda mini


Vanda hookeriana, vanda pensil Vanda pumila, vanda mini



Vanda sumatrana, vanda Sumatra

species anggrek yang dilindungi(Indonesia Orchid species)

Orchid Image : A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

HOME

Jenis jenis anggrek langka di Indonesia dilindungiBerdasarkan PP no. 7 Tahun 1999 , Penangkaran harus seijin balai KSDA sehingga bisa diperbanyak dan diperjual belikan hasil penangkarannya.

29 orchid species protected by goverment regulation.Reproduction must be permited by KSDA office so the result can be used commersials.Many species of Orchid flower present in many nursery

  • Ascocentrum miniatum, anggrek kebutan
  • Corybas fornicatus, anggrek koribas
  • Coelogyne pandurata, anggrek hitam
  • Cymbidium hartinahianum, anggrek hartinah
  • Dendrobium d'albertisii, anggrek albert
  • Dendrobium lasienthera, anggrek stuberi
  • Dendrobium macrophyllum, anggrek jamrud
  • Dendrobium catinecloesum, anggrek karawai
  • dendrobium palaenopsis, anggrek larat
  • Dendrobium ostrinoglosum, anggrek karawai
  • Gramatophyllum papuanum, anggrek raksasa irian
  • Gramatophyllum speciosum, anggrek tebu
  • macodes petola, anggrek ki aksara
  • Paphiopedillum chamberlainianum, anggrek kasut kumis
  • Paphiopedillum glaucophyllum, anggrek kasut berbulu
  • Paraphalaenopsis devenei, anggrek bulan bintang
  • Paraphalaenopsis laycockii, anggrek bulan Kalimantan Tengah
  • Paraphalaenopsis serpentilingua, anggrek bulan Kalimantan Barat
  • Phalaenopsis amboinensis, anggrek bulan Ambon
  • Phalaenopsis gigantea, anggrek bulan raksasa
  • Phalaenopsis sumatrana, anggrek bulan Sumatra
  • Phalaenopsis violacose, anggrek kelip
  • Renanthera matutina, anggrek jingga
  • Spathoglattis zurea, anggrek sendok
  • Vanda celebica, vanda mungil Minahasa
  • Vanda hookeriana, vanda pensil
  • Vanda pumila, vanda mini
  • Vanda sumatrana, vanda Sumatra


recent post

Followers