Coelogyne pandurata


Orchid species known as Black or Black Orchid, because the tongue is black. Coelogyne Lindley pandurata spread in Malaysia, Sumatra, Borneo and the Philippines in Mindanao, Luzon and the island of Samar. Generally grow on old trees, near the beach or in low-lying swamp areas hot enough.


Coelogyne pandurata Species:


Genus: Coelogyne


Description

Coelogyne Lindl. 1821, is a genus that has more than 200 species of orchids, epiphytes. Several orchid species are on the ground or litofit habitat . Genus Bolborchis Lindl., Pfitzer and Hologyne now Ptychogyne included Pfitzer dal


Uneven

Regional distribution of this genus mencakul India, China, Indonesia and the Fiji Islands with the main distribution area of Borneo, Sumatra and the Himalayas. Orchids of this genus can be found ranging from lowland forest to tropical rain forests pegun Description Some of the orchids Coelogyne which is the result of crossing is: Coelogyne 'Mem. W. Micholitz '(C. mooreana × C. lawrenceana) Coelogyne' Linda Buckley '(C. mooreana × C. cristata) Coelogyne' Burfordiensis' (C. pandurata × C. asperata). Coelogy

new species of dendrobium


Jakarta - Kekayaan hayati Indonesia memang seperti tidak ada habisnya. Eksplorasi demi eksplorasi di pedalaman dan hutan Indonesia kerap kali menemukan spesies baru baik flora maupun fauna.Seperti dipublikasikan baru-baru ini oleh Lembaga Imu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dua spesies baru kembali muncul dari belantara Kalimantan. Anggrek spesies baru berbunga indah ini diberi nama Dendrobium flos-wanua D.Metusala, P.O'Byrne & J.J.Wood dan Dendrobium dianae D.Metusala, P.O'Byrne & J.J.Wood. Seperti rilis yang diterima detikcom dari LIPI, Senin (27/9/2010), Kedua spesies ini dideskripsikan secara ilmiah oleh Destario Metusala (Kebun Raya Purwodadi-LIPI) bersama kedua rekannya Peter O'Byrne (praktisi anggrek di Singapura) dan J.J.Wood (Peneliti dari Herbarium Kew Botanical Garden-Inggris). Anggrek ini termasuk didalam marga Dendrobium seksi Calcarifera yang pusat spesiasinya diduga ada di bagian barat Indonesia, yaitu pulau Sumatera. Namun penelitian yang dilakukan secara simultan oleh peneliti dari Herbarium Kew Botanical Garden-Inggris yang mengobservasi kawasan Sarawak dan peneliti dari Kebun Raya LIPI yang melakukan observasi di Kalimantan, menunjukkan bahwa pulau Borneo merupakan salah satu pusat spesiasi yang utama dari Dendrobium seksi Calcarifera ini.Kedua anggrek spesies baru ini diperkirakan memiliki area distribusi yang terbatas hanya di kawasan Kalimantan. Oleh karena itu jenis ini tergolong sebagai spesies endemik yang memerlukan perhatian khusus untuk konservasinya. Anggrek spesies baru yang pertama adalah Dendrobium flos-wanua. Anggrek ini memiliki bunga dengan lebar 2.1-2.2 cm, berwarna hijau kekuningan mengkilat, sepal-petalnya membuka lebar, dengan bagian cuping tengah bibir bunga yang cukup lebar, berbentuk hampir segi empat dan berbelah dangkal di bagian ujungnya. Dalam satu perbungaan dapat membawa 2 sampai 8 kuntum bunga yang mekar hampir bersamaan. Selain bibir bunganya yang lebar, ciri khas unik anggrek ini adalah pada tonjolan kalus berbentuk "U" yang melintang pada bibir bunganya. Nama flos-wanua berarti "bunga Wanua" yang diambil dari nama Vincent Wanua, seorang hobiis anggrek di Malang yang telah membantu dalam penelitian ini. Jenis anggrek yang kedua adalah Dendrobium dianae yang memiliki kedekatan morfologi dengan anggrek Dendrobium muluense dari Sarawak, bedanya kalau pada bibir D. dianae memiliki dua buah kalus sejajar yang memanjang dan membujur di permukaan cuping tengah bibir bunganya. Anggrek ini memiliki bunga dengan lebar 1.6-1.8 cm, berwarna mulai dari hijau muda polos hingga kuning tua mengkilat dengan pola strip kemerahan pada sepal dan petalnya. Perbungaannya menggantung dan menggerombol antara 4-12 kuntum bunga, sehingga rangkaian bunganya nampak sangat padat. Keunikan lainnya yaitu, variasi warna Dendrobium dianae yang sangat beragam. Padahal selama ini variasi warna tidak terlalu menonjol untuk seksi Calcarifera. Dari hasil observasi diketahui bahwa terdapat setidaknya 5 variasi warna pada spesies ini, dan antar variasi warna bisa sangat ekstrim perbedaannya. Sehingga dari sisi hortikultura, keragaman warna pada D. dianae ini justru dapat menjadi potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber genetik dalam kegiatan pemuliaan anggrek dan hibridisasi. Nama anggrek ini didedikasikan untuk seorang hobiis anggrek sekaligus penggiat konservasi anggrek di Kalimantan Selatan (Banjarmasin) bernama Dian Rachmawaty. Dari sisi budidaya, anggrek ini terbukti cukup adaptif pada ketinggian 300-900 m dpl, dengan intensitas cahaya 50-70 persen. D. flos-wanua umumnya berbunga pada bulan April, Juni dan November. Sedangkan D. dianae hampir dapat berbunga sepanjang tahun. Kedua anggrek dari seksi Calcarifera ini menyukai media perakaran yang lembab, dan lingkungan dengan aerasi yang terbuka dan banyak angin. Hama berbahaya yang sering menyerang adalah tungau.(gah/nrl) http://m.detik.com

recent post

Followers